Selasa, 07 Juni 2011

Konsep dan Implementasi Kurikulum terhadap Pembelajaran Bahasa Inggris

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah sebagai salah satu upaya untuk mencerdaskan bangsa. Didalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional juga disebutkan bahwa Pendidkan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang mempunyai tujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam hubungannya dengan pendidikan itulah dibentuk suatu aturan tentang materi apa saja yang harus diberikan kepada peserta didik, yang sering kita kenal dengan “Kurikulum”. Dalam hal ini maka Kurikulum harus bisa memberikan bentuk pelayanan yang segar kepada peserta didik agar didapat hasil yang optimal. Untuk itu diperlukanlah suatu pendekatan yang dianggap bisa memberikan pelayanan.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kuriku
Slum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan serta penilaian pendidikan.

Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam merancang kurikulum, meliputi pengembangan program dan materi pembelajaran yang sesuai, pengembangan silabus pembelajaran serta model pembelajaran yang akan digunakan. Setelah semua tersusun, mulai kita berpikir bagaimana mengimplementasikan kurikulum tersebut dalam proses pembelajaran di kelas yang diharapkan siswa mengerti dan paham terhadap materi pelajaran.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengembangan program dan materi pembelajaran Bahasa Inggris?

2. Bagaimana pembelajaran bahasa berbasis genre menurut Siti Wachidah?

3. Bagaimana pengembangan silabus pembelajaran Bahasa Inggris menurut ketentuan Depdiknas. (2008)?

4. Apa saja model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris?

5. Bagaimana implementasi kurikulum di SMP Al Biruni Cerdas Mulia ? (hasil observasi)

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengembangan program dan materi pembelajaran Bahasa Inggris.

2. Mengetahui pembelajaran bahasa berbasis genre menurut Siti Wachidah.

3. Mengetahui pengembangan silabus pembelajaran Bahasa Inggris menurut ketentuan Depdiknas. (2008).

4. Mengetahui model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris

5. Mengetahui implementasi kurikulum di SMP Al Biruni Cerdas Mulia .


BAB II

KONSEP DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

A. The Scope of Communicative Syllabus

1. Focusing on Language Content in a communicative syllabus

a. Konsep dan pengertian

Pendekatan dengan menggunakan silabus yang komunikatif tidaklah menafikan keberadaan struktur bahasa dalam pembelajaran secara total, namun pendekatan ini memberikan peran unsur-unsur komunikatif yang lebih banyak dibanding unsur-unsur struktur dalam pembelajaran bahasa. Sesuai dengan apa yang diungkapkan Wilkins dan Widdowson bahwa fungsi dan nosi selalu dilandasi dengan ukuran gramatikal dan situasi yang ada. Struktur bahasa tidak selamanya bisa digantikan oleh pandangan fungsi, bahkan menurut Wilkins sendiri sebagai orang yang membidani pendekatan ini juga mengajak para pengikutnya agar apa yang dinamakan nosi dan fungsi hendaknya tidak mendorong suatu posisi yang ekstrim ke posisi ekstrim lainnya. Tetapi nosi dan fungsi hanya sekedar ”…to change the balance of priorities by emphasizing function and meanings through language” (…mengubah keseimbangan prioritas dengan menekankan fungsi dan makna melalui bahasaJadi dari pelopornya sendiri bermaksud untuk memberikan penekanan yang wajar antara tata bahasa dan maknanya dalam konteks.

Kesulitan yang paling utama di dalam pembentukan silabus adalah fakta bahwa belajar bahasa tidak dapat diterangkan seperti belajar unut-unit tunggal dari segala sesuatu, seperti notions (konsep-konsep), fungsi-fungsi, struktur dan kosa kata. Itu adalah beberapa kombinasi dari semuanya, bersamaan dengan pengalaman sebelumnya, bahwa pelajar berlatih yaitu untuk memperhitungkan belajar bahasa. Pelajar-pelajar ESL/EFL sudah siap menguasai konsep-konsep, fungsi-fungsi, dan kosa kata yang merupakan pengetahuan yang solid yang mendasari bahasa pertama mereka. Alangkah nampak penting untuk mengajar, oleh karena itu, River (1980) pendapatnya adalah interlingual kontras antara konsep-konsep dalam L1 dengan target bahasa.

Gagasan gender, contohnya bisa dimengerti baik oleh pembicara bahasa Inggris ataupun oleh pembicara bahasa Prancis, namun cara gender yang digunakan dalam dua bahasa ini begitu berbeda, bahwa kedua pelajar teersebut mempunyai kesulitan beradaptasi dengan sistem yang digunakan dalam bahasa lain. Informasi tentang bagaimana bahasa baru berjalan adalah penting dan tidak dapat diambil dengan gampang dalam pembentukan pembelaran. Hal ini benar sekalipun tujuan terakhir siswa untuk pembelajaran akurasinya tidak sempurna didalam bahasa baru tetapi hanya kemampuan interpretif saja.

b. Prinsip-prinsip pembelajaran

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Communicative Syllabus yang memperhatikan bahasa sebagai standar isi diantaranya:

1) Integrating notional and functional meaning with grammar, thematic content and lexis

Yang dimaksud dengan Integrating notional and functional meaning with grammar, thematic content and lexis adalah menggabungkan bangsa dan pengertian fungsi tersebut berdasarkan grammar, isi thematic dan hal-hal yang berhubungan dengan kebahasaan.

Dalam hal ini, perancang pembelajaran lebih menekankan pada pengetahuan grammar atau theoretical saja. Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain adalah:

1. Pengembangan inventoris

Secara ideal, apa yang diperlukan untuk pengembangan pembelajaran adalah mengombinasikan bentuk-bentuk, gagasan (konsep), fungsi-fungsi dan nampak (kosa kata) dan skill bahasa.

a) Inventory A: Notion and grammar (gagasan/konsep dan grammar)

Inventory A terdiri dari dua daftar terpisah: a) semua topik-topik gramatical diajarkan selama pembelajaran, diorganisir dalam sebuah sekuensi yang cocok dalam sistematika pembelajar dan dalam generalisasi-generalisasi yang dapat dikembangkan dalam segala cara. b) Daftar kategori-kategori yang diajarkan selama pembelajaran.

Dua daftar terpisah ini kemudian digabungkan kedalam unit-unit yang berisikan gagasan (konsep-konsep)dan struktur-struktur dalam sebuah cara yang mengijinkan kita untuk menunjukkan bagaimana kategori-kategori notional dan kategori-kategori gramatikal berintraksi.

b) Inventory B: Themes and Topics

Inventory B adalah daftar tema-tema dan topik-topik. Tujuan utamanya ada dua: a) untuk menyediakan kontektualisasi budayauntuk materi bahasa dalam silabus, dan b) untuk memotivai minat dengan menggunakan topik yang relevan dan menarik terhadap grup pelajar yang utama. Inventory ini adalah sangat vital dan akhirnya dan akhirmya membuat atau memecahkan penbelajaran pada term kesuksesannya di dalam kelas. Topik yang dimasukkan bisa datang dari pengatur pertanyaan, kepada murid yang potensial pada grup usia yang sama dan semenarik diskusi-diskusi terbuka dengan para pelajar didalam level yang sama.

c) Inventarisasi fungsi sosial budaya

Inventarisasi C adalah daftar komunikatif, fungsi sosiokultural yang memiliki perencanaan untuk memasukkannya dalam proses pembelajaran bahasa inggris. Namun perencana dihadapkan dengan kesulitan yang serius karena tidak ada teks referensi yang memberikan gambaran komprehensif tentang perilaku tindak dan tutur dalam bahasa inggris dikarenakan banyak dari peserta didik yang tidak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pertama.

2. Pemilihan Kebahasaan (The Choice of Lexis)

Dalam penggabungan persediaan A dan B, masalah timbul yang belum dibahas sejauh ini, yaitu pilihan lexis atau stok barang kosakata. merger ini adalah langkah penting oleh karena itu keputusan dibuat dalam unit tematik mengenai item leksikal akan dimasukkan. keputusan ini leksikal harus mengesampingkan pertimbangan lain, lexis memberikan penekanan yang tepat dan fokus sesuai dari yang kaya pantas dalam unit tematik, jika pelajar tidak mungkin dapat mengambil keuntungan penuh dari unsur mereka.

Definisi dari istilah leksikal, juga dikenal sebagai definisi kamus, arti dari istilah dalam penggunaan umum. Seperti namanya lainnya menyiratkan, ini adalah semacam satu definisi yang kemungkinan akan menemukan di kamus. Definisi leksikal biasanya jenis yang diharapkan dari permintaan untuk definisi, dan umumnya diharapkan seperti definisi akan dinyatakan sesederhana mungkin untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.

2) Discrete And Holistic Views: The Horns Of A Dilemma

Di dalam konsep persediaan yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan berbagai komponen konten bahasa, perencana pembelajaran datang untuk mengatasi dilema yang memiliki percabangan seluas-luasnya. Untuk itu adalah paradoks bahwa meskipun bahasa berpengalaman komprehensif, dalam rangka untuk menentukan apa yang masuk ke silabus dan garis besar kursus, kita harus bergantung pada analisis yang membedah menjadi potongan-potongan. Namun, ketika tujuan dari kursus ini dianggap kompetensi komunikatif, atau aspek, maka ujung yang berbeda tampaknya akan menarik satu sama lain. realisasi dilema ini membawa kedua cara fokus terpisah memandang bahasa manusia: diskrit dan holistik.

a. The Holistic Views

Holistik adalah saduran kata dari bahasa Inggris yaitu “Holistic” yang menekankan pentingnya keseluruhan dan saling keterkaitan dari bagian-bagiannya.

Holistic Curriculum: Pendidikan yang memungkinkan siswa mendekati secara kritis kebudayaan, moral, dan politik yang berhubungan dengan kehidupan mereka. Pendidikan yang didasari oleh pendapat dasar bahwa setiap pribadi akan menemukan jati diri, arti, dan tujuan hidup melalui hubungan-hubungan dengan komunitas, dunia alamiah, dan nilai-nilai spiritual seperti belas kasih dan perdamaian. Pendidikan Holistik adalah filsafat pendidikan berdasarkan pada premis bahwa setiap orang menemukan identitas, makna, dan tujuan dalam hidup melalui koneksi ke masyarakat, ke dunia alam, dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang dan perdamaian.

b. The Discrete View

Sebaliknya, pengajaran bahasa kedua dan asing, untuk sebagian besar, dimasukkan unsur diskrit tampilan bahasa, khususnya dalam pendekatan kognitif-kode audiolingual dan Bahkan dalam periode belakangan ini, apakah konten tersebut telah struktur gramatikal atau konsep semantik dinyatakan sebagai gagasan, kami telah mengandalkan pada analisis bahasa dalam membangun persediaan yang bergantung pada prosedur penemuan mereka pada proses membedah dan segmentasi menjadi elemen-elemen: dalam ilmu linguistik ini diskrit entitas diberi nama seperti '''fonem, morfem', dan 'senteces'.

c. Evidence of the Discrete versus Holistic Paradox in Language Content, Process and Product

Holistic education is the practice of freedom for creativity and productivity or 'work'. Work is meaningful when motivation is stimulated by natural curiosity.This makes it motivating at all ages. "...It is in fact nothing short of a miracle that the modern methods of instruction have not yet entirely strangled the holy curiostiy of inquiry; for this delicate little plant, aside from stimulation, stands mainly in need of freedom; without this it goes to rack and ruin without fail." (Albert Einstein).

Pendidikan holistik menurut Jeremy Henzell-Thomas diacu dalam Latifah (2008) merupakan suatu upaya membangun secara utuh dan seimbang pada setiap murid dalam seluruh aspek pembelajaran, yang mencakup spiritual, moral, imajinatif, intelektual, budaya, estetika, emosi dan fisik yang mengarahkan seluruh aspek-aspek tersebut ke arah pencapaian sebuah kesadaran tentang hubungannya dengan Tuhan yang merupakan tujuan akhir dari semua kehidupan didunia.

Setiap area, isi bahasa, proses dan produk dapat dilihat baik dari sudut pandang diskrit dan sudut pandang holistik, menciptakan sebuah kontinum dengan perspektif diskrit di ujung satu dan perspektif holistik di sisi lain. Titik pandang diskrit (descrete) berfokus pada bentuk (form), akurasi (accuracy) dan analisis (analysis) sedangkan titik holistik (holistic) berfokus pada fungsi (function), kelancaran (fluency), dan penggunaan (use).

d. Reconciling opposites in the intructional plans

Menghadapi permasalahan penggabungan element-element atau analisis-analisis isi bahasa dengan holitic, comprehensive yang digunakan, banyak contoh pemikiran yang diusulkan untuk mendesain pembelajaran.

Menurut Steller bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang (what is) dengan bagaimana seharusnya ( what should be) yang bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program dan alokasi sumber. Pada teori ini perencanaan menekankan pada usaha mengisi kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang disesuaikan dengan apa yang dicita-citakan.

e.Other system, other world

Model beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum sekolah,contohnya adalah model ADDIE. Sistem pembelajaran: input-proses-output.ini lahir pada tahun 1990 an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.

Tahap-tahap Model ADDIE:

ü Analysis(analisa kebutuhan, identifikasi masalah, dan identifikasi tugas pembelajaran)

ü Design(merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR; specific, measurable, applicable, and realistic, menyusun tes, memilih strategi, metode, dan media pembelajaran yang tepat)

ü Development(mewujudkan desain tadi dalam bentuk nyata, misalnya dengan mencetak modul, kemudian mengembangkan modul dengan sebaik mungkin).

ü Implementation(langkah nyata menerapkan sistem pembelajaran yang kita buat)

ü Evaluation(sudah efektifkah sistem pembelajaran yang kita kembangkan

c. Langkah-langkah atau prosedur pembelajarannya

Perancang pembelajaran perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

ü Menghadirkan bentuk-bentuk linguistik secara sistematis untuk memungkinkan para pelajar menekspresikan gagasan (konsep) bahasa. Lebih lanjut lagi, penekanan spesial perlu ditempatkan dalam perbedaan-perbedaan interlingual berhubungan dengan realisasi konsep-konsep.

ü Gunakan conteks yang komunikatif untuk mengizinkan para pelajar agar tertarik dalam sebuah range yang luas pada fungi-fungsi bahasa yang komunikatif. Disini juga penekanan harus ditempatkan fitur spesifik sosialbudaya bahasa untuk menghasilkan ucapan yang disesuaikan dengan pengaturan budaya. Diantara beberapa kemungkinan pilihan-pilihan tersedia untuk mengekspresikan fungsi-fungsi, materi-materi harus dimulai dengan hal tersebut yang sangat sering dalam native speech dan hanya secara berangsur-angsur meluas untuk memasukkan frequensi yang sedikit ( Canale and Swain 1980).

ü Gunakan berbagai tipe teks baik dalam oral maupun bentuk tulisan untuk mengembangkan kecakapan comunikatif dalam semua skill bahasa,kecuali kalau spesifik pembelajaran meminta penekanan pada satu atau dua keahlian bahasa daripada pada semua.

2. Focusing on Process: material that deal with socio-cultural appropriateness

a. Konsep dan pengertian

Focusing on Process: material that deal with socio-cultural appropriateness atau dalam bahasa Indonesia adalah fokus pada proses: material yang berkaitan dengan sosio budaya yang tepat berarti materi-materi yang diberikan dalam proses pembelajaran sangat berkaitan dengan nilai budaya dalam masyarakat yang tepat. Faktanya, hubungan antara jenis latihan dan isi sosial budaya baru saja mulai untuk dijelajahi. Berurusan dengan norma-norma sosial dalam bahasa mungkin akan lebih cocok, namun, untuk proses holistik daripada berfokus pada elemen diskrit.

Dalam Communicative Learning, factor budaya juga sangat ditekankan. Sehingga beberapa prinsip dan metode pembelajaran diterapkan dalam system ini.

v Sosiodrama dan Bermain Peranan (Role play Method)

Role Play atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang. Bermain peran (Role play) di dalam kelas, seperti yang diungkapkan oleh Ladousse (dalam Budden) dapat menambah variasi dalam mengajar, juga merupakan perubahan langkah dan kesempatan dalam pembentukan bahasa.

Bermain peran (role play) atau kegiatan kreatif dan imajinatif semacam ini akan merangsang mahasiswa untuk berimajinasi dan menantang mereka untuk berfikir dan berbicara (Sadow, dalam Tompkins; 1998). Dalam bahasa Inggris, role play memiliki beberapa istilah yang memiliki arti yang hampir sama, yakni simulation, game, role play, simulation-game, role-play simulation dan role-playing game (Crookall dan Oxford dalam Tompkins; 1998).

Model latihan role play dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu individual role-playing exercises dan interactive role-playing exercises.

· Individual Role-Playing Exercises

Salah satu contoh kegiatan pada model pertama ini adalah; mahasiswa meneliti dan menulis atau mempresentasikan masalah dengan cara dan sudut pandang karakter yang harus diperankan. Inilah yang menjadi tantangan dari model ini.

· Interactive Role-Playing Exercises

Model kedua yang paling umum dilakukan adalah drama, debat atau collaborative problem-solving exercises.

b. Prinsip-prinsip pembelajaran

Dalam pembelajaran Communicative Learnig, prinsip-prinsip pembelajaran yang diperhatikan adalah sebagai berikut:

1) Menggabungkan Tata Bahasa Norma Sosial: Sebuah Pandangan Unsur Yang Berlainan

Konten bahasa diperluas untuk mencakup hal-hal sosio budaya serta bentuk gramatikal, penulis ditantang untuk menemukan model untuk menggabungkan materi-materi. Dalam melakukannya, mereka menghadapi beberapa masalah menarik. Misalnya, kapan, mengapa, dan bagaimana seharusnya kita berurusan dengan aspek sosiolinguistic? Apakah aturan kesesuaian sosial yang diperlukan untuk semua program? Apakah konten yang harus dengan tegas disertakan? Dll.

Komunikasi lintas budaya merupakan salah satu bidang kajian Ilmu Komunikasi yang lebih menekankan pada perbandingan pola-pola komunikasi antar pribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan. Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu. Kebutuhan untuk mempelajari komunikasi lintas budaya ini semakin terasakan karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda, disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk dengan berbagai ras, suku bangsa, agama, latar belakang daerah (desa/kota),latar belakang pendidikan, dan sebagainya.

2) Naskah Roleplays: Pandangan Holistik yang Mengandung Sosio Budaya

Satu latihan yang terdapat dalam periode komunikasi, roleplay adalah suatu metode yang menyeluruh, latihan holistic bahasa. Untuk penulis, roleplay adalah latihan beresiko tinggi, namun mewakili suatu susunan dugaan tujuan komunikatif dalam ilmu mendidik bahasa, seringkali roleplay digunakan tanpa koneksi yang jelas menuju tujuan yang spesifik, dalam roleplay pelajar akan mendapatkan norma sosial yang tersirat yang sesuai dengan target budaya bahasa oleh ciri-ciri sebuah anggota masyarakat. Dalam hal ini, pelajar diharuskan untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan untuk memerankan suatu identitas tersebut.

Tapi selain itu, mempertimbangkan bahwa dalam profesi pengajaran bahasa, roleplay menjadi sebuah istilah penutup untuk berbagai jenis. Dengan demikian, penulis cenderung menggunakan istilah seperti ‘warm-up’, ‘improvisation’, ‘simulation’, and ‘socio-drama’, ada sedikit perbedaan diantara istilah tersebut. Sebenarnya, warm-up dan improvisation sudah muncul dalam materi pengajaran bahasa dari dunia teater (Spolin 1963). Simulations dan socio-drama, bukan masalah asal mula mereka, dengan cermat tergambarkan sebagai latihan pengajaran bahasa kelas (Jones 1982; Scarcella 1978).

c. Langkah-langkah atau prosedur pembelajarannya

Dapatkah Roleplay sedikit menjadi hal yang berbahaya? Kemungkinan besar, jika digunakan tanpa pandang bulu. Untuk menghindari beberapa jebakan, penulis disarankan untuk:

Ø Hindari Menempatkan Wine Lama di Botol Baru

Sebagaimana ditunjukkan pada ilustrasi 7.8 dan 7.9, roleplay telah digunakan sebagai judul pada latihan typesof banyak. Dari dialog kuno untuk keluar - dan-wawancara antara mitra. Puting label baru pada tipe, latihan lama akrab seperti dialog bukan merupakan strategi yang efektif yang digunakan untuk mendorong tujuan kompetensi komunikatif. Ketika tidak ada perhatian terhadap peran dan implikasi bagi pelajar dalam asumsi peran tersebut, maka penulis lebih baik disarankan untuk tidak menggunakan label.

Ø Memberikan Penjelasan

Setiap unit bahasa yang baik dibangun atau pelajaran membutuhkan fokus, suatu konsentrasi yang penulis telah dipilih. Bersih, penulis dipertimbangkan adalah Roleplaying latihan optimal untuk fokus ini? Jika bermain di bahan untuk praktek kelancaran, tetapi tanpa isi maka penulis perlu mempertimbangkan: 'Apakah saya menulis untuk pelajar aktor-in-tra atau bahasa? " Jika roleplay adalah diperuntukkan untuk membantu peserta didik memahami sosial non bahasa target, maka harus memberikan informasi tentang bot peran yang peserta didik menanggung dan situasi sosial dalam peran harus diberlakukan.

Ø Mengadakan persiapan

Apabila kita langsung melakukan roleplay tanpa persiapan yang matang merupakan kegagalan. Syaiful Imran (2009) www.ipotes.com, menjelaskan langkah-langkah role playing atau bermain peran, yaitu : (1) Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan, (2) menunjuk beberapa murid untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari ,(3) guru membentuk kelompok murid yang anggotanya 5 orang, (4) memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai, (5) memanggil para murid yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan, (6) masing-masing murid berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan, (7) setelah selesai ditampilkan, masing-masing murid diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok, (8) masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya, dan (9) guru memberikan kesimpulan secara umum.

Ø Memutuskan: memainkan peran sendiri atau orang lain?

Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Namun, dalam satu sisi siswa dibuat merasa terjamin atau aman menggunakan topeng orang lain. Seperti Pipe (1983) mengatakan losing one’s own identity is threatening (Dubin,1987: 141). Pelajar seharusnya memainkan peran mereka sendiri ataupun orang lain tergantung pusat dan segi yang berhubungan dengan konteks dari pelajaran itu sendiri

Ø Memberikan motivasi

Setelah memilih untuk memainkan peran orang lain, lalu penulis harus mengembangkan faktor motivasi yang kuat, supaya para pelajar semangat untuk memainkan peran orang lain. Berikan para peserta sebuah uraian tentang peran mereka khususnya yang mencakup motif-motif dan interes-interes peran itu daripada hanya sekedar permainan layar yang harus dimainkan. Berikan peserta beberapa menit untuk masuk dalam peran mereka. H. Douglas Brown (2007:183) menyatakan motivasi adalah istilah serba guna yang paling sering dipakai untuk menjelaskan keberhasilan dan kegagalan di hampir semua pekerjaan yang kompleks. Asumsi ini tidak salah karena tak terhitung studi dan eksperimen dalam pembelajaran manusia yang menunjukan bahwa motivasi adalah kunci bagi pembelajaran pada umumnya.

(Weiner,1986;Deci,1975;Maslow;1970).

3. Focusing on product: material that deal with the reading skill

Di dalam suatu mengembangkan kemampuan siswa dalam membaca ,perlu seorang tenaga pengajar. Sebuah teknik sebisa mungkin mengembangkan suatu teknik pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan membaca siswa.

Sebuah material yang dipersiapkan untuk bahan bacaan didalam mengembangkan bacaan bahasa inggris.Beberapa teori sebagai model latihan dalam pembelajaran.Ada beberapa instruksi yang harus di perhatikan dalam materi ini. Pertama kita harus bisa memilih karakteristik suatu bacaan atau sebagai analisis tektual.Kedua,sebuah bacaan harus sesuai dengan teori dan yang ketiga,karakteristik bacaan tepat yang perlu di perhatikan.

a. Konsep dan pengertian

Reading adalah salah satu bagian dari empat kemampuan yang utama dalam bahasa Inggris. Penyajian atau persiapan materi yang sesuai menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah pengajaran bahasa Inggris, khususnya dalam pengembangan kemampuan membaca (reading skill). Persiapan materi bacaan untuk pengajaran bahasa Inggris pada fungsi bahasa Inggris sebagai second-language menggambarkan sebuah benturan yang dicontohkan pada teori dalam model praktek.

Untuk menghadapi kendala yang berhubungan dengan kemampuan dalam reading, seorang penyusun atau perancang materi harus mampu menyatukan beberapa element sehingga teori tentang menyiapkan atau merancang sebuah materi bacaan dapat diwujudkan dalam materi pembelajaran. Teori – teori tentang persiapan materi bacaan , diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Teori tentang kealamian pada bacaan itu sendiri ( nature of reading itself);

2. Teori tentang pemilihan karakteristik bacaan atau anaisis text (textual analysis;

3. Spesifikasi karakter dan kebutuhan pembaca (reader) atau siswa (leaner);

b. Prinsip-prinsip pembelajaran

1) The material preparer’s role

Penekanan pada tujuan pengaturan menurut tujuan pelajar untuk belajar bahasa kedua(asing)telah membangkitkan minat dalam keterampilan membaca.khusunya dalam koneks bahasa asing yang mana itu yang penting.tapi tidak seperti pendekatan statis sebelumnya ketika membaca bahasa asing biasanya dilakukan melalui grammar-translation.dorongan komunikatif telah mendorong majunya diskusi methological terhadap ke-2 kebutuhan pelajar.sifat tekstual dan pengenalan psikologi dan mekanisme kognitif yang terkait dengan kompleks keterampilan membaca.

a) The three elements

Keterkaitan dengan keterampilan dalam bahasa kedua berfungsi sebagai bahan persiapan sebagai mediator teks dan pembaca-pelajar. proses mediasi membawa pembelajar berhubungan dengan strategis untuk membaca sukses yang dimanfaatkan dengan efisien.

Dengan demikian tugas desain materi adalah untuk mensintesiskan tiga unsur yang berbeda ke dalam hubungan yang kompatibel antara lain :

§ Strategi membaca membaca atau rekonstruksi dari apa yang pembaca asli tidak efisien-mungkin tanpa disadari

§ Analisis tekstual atau pemeriksaan teks untuk organisasi

§ Karakteristik pelajar pembaca bahasa kedua.

b) Tugas Perancang

Menekankan pada pengaturan objektif yang berdasarkan pada tujuan siswa mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua ( second-language ) telah membawa pembaharuan ketertarikan dalam pengembangan kemampuan membaca (interest in the skill of reading), khususnya dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahasa asing, dimana ini merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Penyaji materi memiliki peranan dan pengaruh besar dalam metodologi pembelajaran atau pengajaran bahasa Inggris.

2) Modal Reading Lesson

a) Strategies for developing Reading skill

Menurut Robinson; 1961 : strategi untuk mengembangkan kemampuan membaca adalah dengan meneliti, pertanyaan, membaca, mengulang, menceeritakan. Pada bagian pertama bacaan, pembaca tidk boleh atau tidak dianjurkan untuk menggunakan kamus akan tetapi pada bagian pertama bacaan itu menggunakan strategi membaca ssskimming yaitu membaca hanya dengan sepintas tidak dengan kata perkata karna itu membuat lama dlm suatu bacaan. Pembaca akan timbul pertanyaan dalam dirinya mengenai maksud dan apa isi bacaan yang ada pada awal bacaan.

b) Feature of text

Features of The text memiliki kaitan erat dengan text analysis, yaitu sebuah text yang didominasi dengan text berbentuk deskripsi atau percakapan. Text analysis ini terdiri dari text yang menganalisis bagaimana sebuah kalimat atau beberapa kalimat menjadi sebuah paragrap atau beberapa paragrap digabungkan secara bersama agar menjadi sebuah gaungan paragrap yang berbentuk text besar. yang kemudian oleh Halliday dan Hasan (1976) disebut sebagai ‘texture’. Bersamaan dengan textual properties, di dalam textual analisis juga terdapat features secara structure, dan relasi yang kohesif. Contohnya, didalam sistem membaca dalam bahasa Inggris terdapat beberapa elemen yang berhubungan seperti referensi dan repetisi. Lalu, didalam sebuah text analysis terdapat sebuah pengorganisasian properties text yang kemudian oleh Widdowson (1978 :45) disebut sebagai ‘coherence feature’.

c) Accomodating learners intertest: working on huncehes

Pembuatan keputusan tentang pemilihan bacaan bagi pelajar yang menarik. Menduga-duga pekerjaan dalam memilih bacaan yang baik. Kita tentukan memilih bacaan dengan judul “ a moral for any age” karena dua kualitas yang amat urgen pada sebuah bacaan yaitu dilihat dar waktu yang tepat dan waktu yang tidak terbatas, artinya dalam memilih sebuah bacaan itu harus disesuakan dengan pelajar dan mengambil materi yang sesuai dengan masalah yang ada pada saat terkini.

c. Langkah-langkah atau prosedur pembelajarannya

Pendekatan yang menyiapkan materi terkait dengan strategi untuk membaca efektif, sifat alami membaca teks, dan karakteristik pelajar memproduksi hasil yang berbeda dari penjelaskan di sesi lalu.

1) Latihan yang Menghasilkan Interaksi dengan Teks

Latihan biasanya ditujukan kepada sintaksis, wacana, dan fitur leksikal dalam teks dan interaksi pembaca dengan teks. Tujuan ini dicapai dengan mengembangkan jenis latihan yang memfasilitasi interaksi terutama dengan pemilihan bacaan di tangan. Konsekuensi dari pendekatan ini adalah bahwa jenis olahraga tertentu hanya dapat muncul sekali dalam seluruh buku teks, sementara yang lain mungkin lebih sering.

2) Menyediakan Berbagai Materi Baca

Sebuah silabus yang baik, tentu saja harus menyediakan buku untuk pelajar-pembaca dengan berbagai bahan dan dengan berbagai strategi membaca. Suatu saat, mengubah sikap telah dinyatakan dalam pernyataan ini: murid hanya perlu membaca bahasa Inggris untuk dapat memahami tulisan teknis atau ilmiah, jadi kita hanya akan mengajar mereka dalam cara mengatasi dengan satu jenis bahan.

3) Memilih Teks Sesuai dengan L2 Learner–Readers

Ada sejumlah alasan untuk memanfaatkan narasi dalam buku teks untuk tingkat yang lebih rendah. Pertama, berbagi narasi universal yang sama fitur organisasi, unsur kronologi, membuat mereka bentuk lebih mudah bagi pembaca berpengalaman-pelajar. Kedua, narasi tampaknya merupakan jenis universal menulis dalam semua masyarakat melek huruf, pelajar-pembaca datang dengan gaya retoris narasi dengan built-in pengalaman. Selain itu, dalam jenis narasi, ada banyak tingkat kompleksitas, mekanisme affording desainer yang dapat digunakan untuk mengontrol dan struktur pilihan. Empat unsur dasar kompleksitas ditentukan oleh:

- Tingkat redundansi dalam narasi

- Tingkat informasi yang diberikan atau ditahan dalam plot

- Kompleksitas karakter, dan

- Kompleksitas peristiwa

Dengan sekuensing narasi sesuai dengan rating mereka pada skala kompleksitas, adalah mungkin untuk memberikan pelajar tingkat yang lebih rendah dengan pengalaman dalam berurusan dengan informasi yang tercantum atau tersirat, gagasan utama dan pendukung, fitur gaya yang digunakan untuk cita-cita utama diuraikan, dll (Dubin dan Olshtain 1984 ).

B. Pembelajaran Bahasa Berbasis Genre (oleh Siti Wachidah)

1.Social Learning Theory (SLT)

a. konsep dan pengertian

Teori belajar ini menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam berbagai kegiatan sosial di dunia nyata untuk dapat menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan yang mendasari tingkah laku dan sikap manusia dalam hidupnya. Melalui pengalaman langsung itulah manusia melakukan dua kegiatan kunci dalam proses belajar, yaitu mengamati cara orang lain di sekitarnya bertingkah laku, bersikap, dan menunjukkan reaksi emosional terhadap kejadian di sekitarnya dan kemudian menirukannya untuk mengarahkan tindakannya. Bagi Bandura, proses belajar melalui pengamatan tersebut jauh lebih mudah dan lebih aman dibandingkan dengan jika harus memulai semuanya dari diri sendiri, sebagaimana dalam pernyataannya berikut ini.

Learning would be exceedingly laborious, not to mention hazardous, if people had to rely solely on the effects of their own actions to inform them what to do. Fortunately, most human behavior is learned observationally through modeling: from observing others one forms an idea of how new behaviors are performed, and on later occasions this coded information serves as a guide for action. (Bandura, 1977: 22)

Secara garis besar disebutkan dalam pernyataan tersebut bahwa cara belajar dengan menirukan model (modeling) terdiri langkah-langkah mengamati model, menyimpan ciri-ciri model tersebut dalam ingatannya, dan kemudian menggunakan pengetahuan yang dipahaminya untuk melakukan atau menghasilkan tingkah laku yang serupa dengan modelnya.

2. Prinsip SLT

Bagi Bandura, tanpa adanya kemandirian tidak akan terjadi proses belajar. Terkait dengan proses pengamatan, kemandirian bertindak ditentukan oleh tiga langkah tindakan, yaitu melalui observasi diri (self-observation), pertimbangan (judgement) tentang dirinya terkait dengan model yang diamati, dan kemudian merespon diri (self-response). Seorang yang mandiri dapat memahami dirinya sendiri, mengetahui sejauh dia mampu melakukan suatu model, dan juga dapat mengenali kelemahan serta kekurangannya (self-concept).

2.Proses Sosial Penguasaan Bahasa

a. Pengertian

Suatu proses dimana siswa menginginkan suatu kepuasan dalam belajar, dengan cara berkehidupan social.

b.Langkah atau prosedur pembelajaran

Proses pembelajaran dimulai dengan guru memaparkan atau menjelaskan unsur dan aturan (presentation), kemudian siswa berlatih menerapkan aturan tersebut dalam latihan-latihan terstruktur (practice), dan baru setelah itu siswa dianggap mampu untuk menerapkan pengetahuannya tersebut dalam lingkup yang lebih luas di luar kelas (production).

c.Prinsip proses sosial penguasaan bahasa

Intelektual manusia berkembang karena berusaha menirukan (imitating) tingkah laku orang lain, bukan karena diberi penjelasan.

3. Peningkatan Kemampuan Berwacana

a.Pengertian

Menurut pandangan Vygotsky dan Piaget tersebut, kemampuan siswa untuk berwacana akan senantiasa berkembang jika selalu dihadapkan pada situasi di mana mereka perlu menggunakan bahasa Inggris untuk melakukan tindakan yang di atas kemampuan yang dimiliki saat ini, yang masih dapat dikerjakan dengan bekerjasama atau mendapat bantuan dari orang-orang lain yang lebih mampu. Terlihat dalam pemahaman tersebut, bahwa zona perkembangan tersebut tidak dapat direkayasa, tetapi muncul secara alami dalam proses menghadapi kesulitan dalam berwacana.

o pembelajaran

Proses pembelajaran bahasa Inggris di sekolah pada perlunya merubah peran guru dan siswa. Selama ini, sangat mungkin karena adanya anggapan guru sebagai penyampai ilmu, guru senantiasan menjadi ‘nara sumber’ yang membuat semua keputusan termasuk menentukan proses, hasil, maupun penilaiannya, sedangkan siswa hanya mengikuti. Keaktifan siswa diukur dari sejauh mana dia mengikuti program pembelajaran guru.

o Konsep Pembelajaran

Dengan tingkat perkembangan potensial (sudah dapat digunakan tetapi dengan bantuan atau bekerjasama dengan orang yang lebih mampu).

Konsep pembelajaran Pemahaman ini berimplikasi terhadap Berdasarkan pandangan Vygotsky dan Piaget, pusat pembelajaran adalah pada siswa yang dihadapkan pada tantangan untuk menghadapi masalah dengan teks-teks yang memiliki tingkat kesulitan pada zona ZPD atau yang dapat diakomodasi oleh ystem kognisi siswa. Peran guru adalah sebagai fasilitator untuk memungkonkan pembelajaran terjadi. Begitu juga halnya dengan teman, yang sebelumnya sama-sama menjadi penerima apapun dari guru, menurut pandangan terakhir, perlu bertindak sebagai rekan kerjasama atau bahkan pembimbing bagi siswa lainnya.

4. Pengamatan dan Peniruan Model

Sebagai langkah awal, perlu ditentukan nama yang sesuai untuk setiap langkah tindakan yang perlu dilakukan dalam model pembelajaran tersebut. Untuk ini, akan digunakan sebagai dasar adalah istilah-istilah yang digunakan dalam SLT, yaitu attention, retention, reproduction, dan motivation. Oleh karena model pembelajaran biasanya merupakan rangkaian tindakan, istilah-istilah tersebut kurang tepat karena merepresentasikan hasil. Untuk secara langsung merepresentasikan langkah, model PPM menggantinya dengan istilah-istilah berikut, yaitu (1) ‘pembiasaan’ (agar tercapai attention), (2) ‘penyadaran unsur dan aturan’ (agar tercapai retention), (3) ‘peniruan’ (agar terjadi reproduction), dan (4) ‘penciptaan suasana yang mendukung’ (agar timbul motivation untuk melakukannya). Berikut ini adalah rincian dari setiap langkah tersebut dalam konteks pembelajaran bahasa asing berbasis genre.

a. Pembiasaan terhadap Unsur dan Aturan Genre

Proses pembiasaan merupakan proses sosial di mana individu terpajan dan terlibat secara alami dalam berbagai kegiatan komunikatif dalam suatu genre. Tujuannya adalah mencapai satu titik di mana dalam sistem intelektual manusia mulai timbul perhatian (attention) pada unsur dan aturan genre. Pertanyaannya adalah bagaimana proses internalisasi tindakan sosial ke dalam perubahan sistem intelektual dapat terjadi?

Bandura (1977) telah mengidentifikasi beberapa ciri proses sosial yang berpotensi mengarah pada pencapaian tahap attention. Menurutnya, proses penarikan perhatian akan terjadi secara alami jika tidak dirasa sulit oleh siswa (simple), aspek-aspek yang perlu diperhatikan mudah diidentifikasi (distinctive), berlangsung terus menerus dalam waktu lama dan dalam frekuensi yang tinggi dalam kehidupan siswa (prevalent), dianggap berguna oleh siswa (useful), dan juga dianggap memiliki nilai positif oleh siswa (positive). Berdasarkan asumsi tersebut, unsur dan aturan suatu genre dapat masuk dalam perhatian siswa jika siswa terus menerus terlibat dalam kegiatan komunikatif dengan menggunakan teks-teks yang relevan, yang berguna bagi dirinya, dihargai oleh lingkungannya, dengan menggunakan materi dan langkah-langkah kegiatan yang menurut siswa mudah untuk dicerna dan dilakukan, serta secara alami menonjolkan unsur dan aturan genre yang bersangkutan.

b. Penyadaran Unsur dan Aturan Genre

Sadar akan unsur dan aturan berarti memiliki merepresentasikan hasil pengamatan ke dalam simbol-simbol kognitif, gambar visual, atau penggunaan bahasa, yang dapat disimpan dalam memorinya dalam waktu lama. Terkait dengan penguasaan bahasa asing, tahap ini adalah tahap di mana individu dapat menangkap suatu kejadian komunikatif dalam bentuk teks yang memiliki kejelasan unsur dan aturan genrenya. Tingkat ini dicapai setelah siswa sangat terbiasa memahami atau berkomunikasi aktif dengan berbagai teks dalam genre yang dipelajari.

Tingkat kemampuan ini sangat penting dikuasai jika tingkat literasi yang ingin dicapai sampai pada tahap analisis atau menghasilkan teks dengan ketepatan unsur dan aturan genre yang memadai. Kenyataan membuktikan bahwa tidak semua siswa mampu mencapai tingkat ini untuk setiap genre yang ada. Terkait dengan genre naratif, misalnya, banyak siswa yang mampu memahami cerita dengan baik, tetapi agak sulit mengharapkan mereka untuk dapat menghasilkan sebuah cerita dengan kualitas yang baik. Hal ini bahkan terjadi juga dalam pembelajaran bahasa ibu.

c. Peniruan Model.

Tahap ini menunjuk pada kemampuan menghasilkan teks. Tahap ini hanya dapat dilakukan jika pemahaman tentang ketiga unsur pembentuk teks sudah sangat dikuasai. Dalam pembelajaran bahasa asing, perlu diperhatikan juga bahwa tuntutan akan tingkat ketepatan unsur dan aturan genre perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang dapat dicapai siswa dalam genre yang bersangkutan. Di samping itu, perlu diingat bahwa tidak ada orang yang mampu mencapai tingkat penguasaan ahli untuk setiap genre yang ada terutama untuk pembuatan teks-teks yang memerlukan bakat dan keahlian khusus, misalnya cerita, puisi, drama, pidato, dan semacamnya. Maka dari itu mengharapkan siswa untuk mencapai tahap ini, untuk setiap genre dan pada setiap tingkat kompetensi dalam bahasa Inggris, bukan hanya tidak mungkin dicapai, tetapi justru akan berakibat pada hilangnya minat siswa untuk menguaai bahasa tersebut.

Namun bagi siswa yang memang mampu, pada genre tertentu, kegiatan menghasilkan teks akan membuatnya semakin terampil serta mencapai tingkat ketapatan yang semakin tinggi. Untuk ini Swain (1995) menekankan perlunya mendorong siswa untuk menghasilkan ‘comprehensible output’, yaitu produk yang menekankan pentingnya ketepatan kebahasaan.

d. Penciptaan Suasana Pembelajaran yang Menunjang

Penciptaan suasana yang mendukung akan sangat mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris di sekolah. Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris di SMP dan SMA, hal ini sangat tergantung pada guru. Oleh karena itu, untuk menerapkan model PPM ini di konteks pendidikan formal di Indonsia, permasalahan utama yang dihadapi terkait pada faktor guru, yaitu karena kebiasaan dan pamahaman pola pembelajaran 3P yang sudah sangat mengakar. Di lain pihak, model pembelajaran PPM sangat bertolak belakang dalam hal arah dan tuntutan, serta memerlukan konteks pembelajaran yang sangat berbeda dalam berbagai aspeknya, termasuk materi, tempat dan waktu belajar, fasilitas yang diperlukan, serta heterogenitas dalam penentuan tingkat penguasaan dalam setiap genre yang berbeda.

Untuk menerapkan model ini, perlu ada dukungan materi otentik yang tidak sedikit. Terkait dengan ini, banyak guru yang memang tidak mampu membaca, mendengar, atau pun terlibat dengan teks-teks otentik. Terutama dalam penguasaan bahasa lisan, banyak guru yang tidak dapat melafalkan bunyi-bunyi bahasa Inggris dengan baik, sehingga sulit menharapkan mereka menjadi model bagi siswanya bahkan untuk teks-teks yang paling sederhana. Di samping itu, selama ini guru terbiasa dengan teks yang seragam bagi setiap siswa, yang biasanya disediakan dalam buku teks. Tentunya tidak mudah bagi guru menghadapi kelas di mana setiap siswa menggunakan teks yang berbeda-beda pada saat yang sama.

C. Pengembangan Silabus Pembelajaran Bahasa Inggris (dalam Depdiknas 2008

1) Standar Kompetensi Lulusan SMA

a. Konsep dan pengertian

Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Acuan untuk merumuskan kompetensi lulusan dapat berupa landasan yuridis yaitu peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna lulusan atau dunia kerja (workplace). Secara yuridis, kompetensi lulusan SMA dapat dijabarkan dari perumusan tujuan pendidikan yang terdapat di dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Selain berdasarkan peraturan perundang-undangan, kompetensi lulusan SMA juga dapat dirumuskan berdasarkan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna lulusan atau dunia kerja (workplace/stakeholder).

Usaha dimaksud dengan melalui pengintegrasian SK yang ditentukan oleh industri ke dalam kurikulum sekolah. "Dunia industri menentukan standar kompetensi lulusan berupa pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai seseorang agar memiliki kompetensi untuk memasuki dunia kerja" (Adams, 1995: 3). Secara garis besar, kompetensi dimaksud merupakan paduan antara pengetahuan, keterampilan, dan penerapan pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam melaksanakan tugas di lapangan kerja. Secara rinci, kompetensi dimaksud meliputi: (a) keterampilan melaksanakan tugas pokok; (b) keterampilan mengelola; (c) keterampilan melaksanakan pengelolaan dalam keadaan mendesak; (d) keterampilan berinteraksi dengan lingkungan kerja dan bekerja sama dengan orang lain; dan (e) keterampilan menjaga kesehatan dan keselamatan kerja.

b. Prinsip-prinsip pembelajaran

Sehubungan dengan kompetensi yang dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional, ada dua butir kompetensi yang perlu mendapatkan perhatian yaitu pertama kecakapan hidup (life skill) dan kedua keterampilan sikap.

Kecakapan hidup (life skill) merupakan kecakapan untuk menciptakan atau menemukan pemecahan masalah-masalah baru (inovasi) dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, atau prosedur yang telah dipelajari. Penemuan pemecahan masalah baru itu dapat berupa proses maupun produk yang bermanfaat untuk mempertahankan, meningkatkan, atau memperbarui hidup dan kehidupan peserta didik.

Kecakapan hidup tersebut diharapkan dapat dicapai melalui berbagai pengalaman belajar peserta didik. Dari berbagai pengalaman mempelajari berbagai materi pembelajaran, diharapkan peserta didik memperoleh hasil samping yang positif berupa upaya memanfaatkan pengetahuan, konsep, prinsip dan prosedur untuk memecahkan masalah baru dalam bentuk kecakapan hidup. Di samping itu, hendaknya kecakapan hidup tersebut diupayakan pencapaiannya dengan mengintegrasikannya pada topik dan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Selain kecakapan yang bersifat teknis (vokasional), kecakapan hidup mencakup juga kecakapan sosial (social skills), misalnya kecakapan mengadakan negosiasi, kecakapan memilih dan mengambil posisi diri, kecakapan mengelola konflik, kecakapan mengadakan hubungan antar pribadi, kecakapan memecahkan masalah, kecakapan mengambil keputusan secara sistematis, kecakapan bekerja dalam sebuah tim, kecakapan berorganisasi, dan lain sebagainya.

Keterampilan sikap (afektif) mencakup dua hal. Pertama, sikap yang berkenaan dengan nilai, moral, tata susila, baik, buruk, demokratis, terbuka, dermawan, jujur, teliti, dan lain sebagainya. Kedua, sikap terhadap materi dan kegiatan pembelajaran, seperti menyukai, menyenangi, memandang positif, menaruh minat, dan lain sebagainya. Mengingat sulitnya merumuskan, mengajarkan, dan mengevaluasi aspek afektif, seringkali kompetensi afektif tersebut tidak dimasukkan dalam program pembelajaran. Sama halnya dengan kecakapan hidup, kompetensi afektif hendaknya diupayakan pencapaiannya melalui pengintegrasian dengan topik-topik dan pengalaman belajar yang relevan.

c. Langkah-langkah atau prosedur pembelajarannya

Hal ini tercantum dalam Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Pasal 1:

(1) Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.

(2) Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi standar kompetensi lulusan minimal Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Standar Kompetensi Lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

(3) Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Lampiran Peraturan Menteri ini.

SKL Satuan Pendidikan untuk SMA sebagaimana yang tercantum pada lampiran Permendiknas nomor 23 tahun 2006, adalah:

a. Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja;

b. Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya;

c. Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya;

d. Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial;

e. Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global;

f. Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif;

g. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan putusan;

h. Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri;

i. Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik;

j. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks;

k. Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial;

l. Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab;

m. Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah NKRI;

n. Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya;

o. Mengapresiasi karya seni dan budaya;

p. Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok;

q. Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan;

r. Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun;

s. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;

t. Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain;

u. Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis;

v. Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris;

w. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.

2. Standar Kompetensi Mata Pelajaran

a.Konsep dan pengertian

Untuk memantau perkembangan mutu pendidikan diperlukan SK. SK dapat didefinisikan sebagai "pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran" (Center for Civ­ics Education, 1997:2).

Menurut definisi tersebut, SK mencakup dua hal, yaitu standar isi (content standards), dan standar penampilan (performance stan­dards).

SK yang menyangkut isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari mata pelajaran tertentu seperti Kewarganegaraan, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. SK yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasaan peserta didik terhadap SI.

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa SK memiliki dua penafsiran, yaitu: (a) pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus diketahui peserta didik dan kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajari suatu mata pelajaran dan (b) spesifikasi skor atau peringkat kinerja yang berkaitan dengan kategori pencapaian seperti lulus atau memiliki keahlian.

SK merupakan kerangka yang menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran yang terstruktur. SK juga merupakan fokus dari penilaian, sehingga proses pengembangan kurikulum adalah fokus dari penilaian, meskipun kurikulum lebih banyak berisi tentang dokumen pengetahuan, keterampilan dan sikap dari pada bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal.

Dengan demikian SK diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam:

§ melakukan suatu tugas atau pekerjaan.

§ mengorganisasikan agar pekerjaan dapat dilaksanakan.

§ melakukan respon dan reaksi yang tepat bila ada penyimpangan dari rancangan semula.

§ melaksanakan tugas dan pekerjaan dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

§ Prinsip-prinsip pembelajaran

Penyusunan SK suatu jenjang atau tingkat pendidikan merupakan usaha untuk membuat suatu sistem sekolah menjadi otonom, mandiri, dan responsif terhadap keputusan kebijakan daerah dan nasional. Kegiatan ini diharapkan mendorong munculnya standar pada tingkat lokal dan nasional.

Pengembangan SK perlu dilakukan secara terbuka, seimbang, dan melibatkan semua kelompok yang akan dikenai standar tersebut. Melibatkan semua kelompok sangatlah penting agar kesepakatan yang telah dicapai dapat dilaksanakan secara bertanggungjawab oleh pihak sekolah masing-masing.

c.Langkah-langkah atau prosedur pembelajaranya

Langkah-langkah menganalisis dan mengurutkan SK adalah:

· menganalisis SK menjadi beberapa KD;

· mengurutkan KD sesuai dengan keterkaitan baik secara prosedur maupun hierarkis.

Dick & Carey (1978: 25) membedakan dua pendekatan pokok dalam analisis dan urutan SK di samping pendekatan yang ketiga yakni gabungan antara kedua pendekatan pokok tersebut. Dua pendekatan dimaksud adalah pertama pendekatan prosedural, dan kedua pendekatan hierarkis (berjenjang). Sedangkan gabungan antara kedua pendekatan tersebut dinamakan pendekatan kombinasi.

· Pendekatan Prosedural

Pendekatan prosedural (procedural approach) dipakai bila SK yang harus dikuasai berupa serangkaian langkah-langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.

Diagram umum pendekatan prosedural adalah sebagai berikut :

Diagram 1. Pendekatan Prosedural




Contoh dalam pelajaran Ilmu Sosial Terpadu (IST) ada beberapa SK yang diharapkan dapat dipelajari secara berurutan. Guru diharapkan dapat menyajikan mana yang akan didahulukan. Misalnya kompetensi; (1) Mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun IST, (2) Mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, dan (3) Mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat. Dari ketiga kompetensi tersebut, maka kompetensi untuk mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun IST harus paling dahulu dipelajari, setelah itu baru mempelajari dua kompetensi berikutnya. Di antara kedua kompetensi berikutnya maka penguasaan terhadap kompetensi mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya lebih didahulukan agar peserta didik dengan mudah mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat, mengingat perubahan yang terjadi justru sebagai salah satu akibat hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Bila disajikan dalam bentuk diagram dapat dilihat pada Diagram 2 berikut.

Diagram 2. Pendekatan Prosedural




Beberapa hal yang perlu dicatat dari contoh tersebut:

· peserta didik harus menguasai SK tersebut secara berurutan.

· Masing-masing SK dapat diajarkan secara terpisah (independent)

· Hasil (output) dari setiap langkah merupakan masukan (input) untuk langkah berikutnya.

§ Pendekatan Hierarkis

Pendekatan hierarkis menunjukkan hubungan yang bersifat subordinatif antara beberapa SK yang ingin dicapai. Dengan demikian ada yang mendahului dan ada yang kemudian. SK yang mendahului merupakan prasyarat bagi SK berikutnya.

Untuk mengidentifikasi beberapa SK yang harus dipelajari lebih dulu agar peserta didik dapat mencapai SK yang lebih tinggi dilakukan dengan jalan mengajukan pertanyaan "Apakah yang harus sudah dikuasai oleh peserta didik, agar dengan pengajaran yang seminimal mungkin dapat diketahui SK yang diperlukan sebelum peserta didik dapat menguasai SK berikutnya?"

Untuk memperjelas, berikut disajikan diagram analisis SK menurut pendekatan hierarkis dalam mata pelajaran matematika.

Diagram 3. Pendekatan Hierarkis




D. Model Pembelajaran

1. Coperative Learning

a. Konsep dan pengertian

Menurut Kauchak dan Eggen (1998) cooperative learning atau pembelajaran koperatif merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan. Sedangkan Slavin (1994) berpendapat bahwa dalam pembelajaran koperatif siswa bekerja sama dengan kelompok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu materi.

Masih membicarakan cooperative learning atau pembelajaran koperatif, dijelaskan oleh beberapa ahli mencoba mengungkapkan bahwa cooperative learning di sebut juga dengan kerja kelompok. Djajadisastra (1985) mengemukakan bahwa metode kerja kelompok atau lazimnya metode gotong royong, merupakan suatu metode mengajar di mana murid-murid disusun dalam kelompok-kelompok pada waktu menerima pelajaran atau mengerjakan soal-soal dan tugas-tugas.

Dapat disimpukan bahwa Cooperative learning adalah strategi pembelajaran yang cukup berhasil pada kelompok-kelompok kecil, di mana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa dari berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya.

b. Prinsip-prinsip pembelajarannya

Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima prinsip model pembelajaran cooperative learning yaitu :

1. Saling ketergantungan positif.

Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

2. Tanggung jawab perseorangan.

Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.

3. Tatap muka.

Dalam pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.

4. Komunikasi antar anggota.

Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.

5. Evaluasi proses kelompok.

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

§ Langkah-langkah atau prosedur pembelajarannya

Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini.

Teknik Jigsaw1Tabel Sintaks Pembelajaran Kooperatif

2. Contextual Teaching Learning

a. Konsep dan pengertian

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak, untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek, yang mudah dilupakan, tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan. Sedangkan menurut (Nurhadi, 2004:103) Pembelajaran Contextual ( Contextual Teaching and Learning / CTL ) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Dan mendorong guru untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

b.Prinsip-prinsip pembelajaran

1. CTL mencerminkan prinsip kesaling-bergantungan (Intedependensi). Prinsip ini membuat hubungan yang bermakna (making meaningfull connections) antara proses pembelajaran dan konteks kehidupan nyata sehingga peserta didik berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek yang esensial bagi kehidupan di masa datang. Prinsip ini mengajak para pendidik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, peserta didik, stakeholder, dan lingkungannya.

2. CTL mencerminkan prinsip diferensi. Diferensi menjadi nyata ketika CTL menantang para siswa untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk menghormati perbedaan, untuk menjadi kreatif, untuk kerja sama, untuk menghasilkan gagasan dan hasil baru yang berbeda, dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tanda kemantapan dan kekuatan.

3. CTL mencerminkan sikap pengaturan diri. Prinsip pengaturan diri
menyatakan bahwa proses pembelajaran diatur, dipertahankan, dan
disadari oleh peserta didik sendiri.

4. CTL mencerminkan penilaian authentik. Penggunaan penilaian
authentik, yaitu menantang siswa agar dapat mengaplikasikan berbagai informasi akademis baru dan keterampilannya kedalam situasi konstekstual secara signifikan.

c.Langkah-langkah atau prosedur pembelajarannya

CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:

a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

c. Ciptakan masyarakat belajar.

d. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

e. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

f. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

3. PAIKEM

a. Konsep dan pengertian

Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik melakukan kegiatan (proses belajar) yang beragam untuk mengembangkan ketrampilan, sikap, dan pemahaman berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan efektif.

PP No. 19 tahun 2005 Bab IV Pasal 19 ayat 1 menyatakan bahwa ”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, keatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” Hal tersebut merupakan dasar bahwa guru perlu menyelenggarakan pembelajaan yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).

Dari uraian singkat tentang Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan (PAKEM), dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan harus diwujudkan di kelas karena dasar hukumnya sudah jelas yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Permasalahannya adalah bagaimana kreatifitas dan inovasi guru dalam menciptakan suasana kelas agar siswa belajar, yang pada dasarnya belajar adalah memproduksi gagasan atau membangun makna baru dari pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa. Siswa sebagai subjek belajar tidak mengkonsumsi gagasan tetapi memproduksi gagasan dalam proses pembelajaran yang difasilitasi oleh guru. Guru sebagai fasilitator hendaknya dapat memfasilitasi terwujudnya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).

b.Prinsip-prinsip pembelajaran

Prinsip pembelajaran PAIKEM sesuai dengan huruf yang menyusun namanya, pembelajaran PAKEM adalah salah satu contoh pembelajaran inovatif yang memiliki karakteristik aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

1. Aktif

pengembang pembelajaran ini beranggapan bahwa belajar merupakan proses aktif merangkai pengalaman untuk memperoleh pemahaman baru. Siswa aktif terlibat di dalam proses belajar mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Teori belajar konstruktivisme merupakan titik berangkat pembelajaran ini. Atas dasar itu pembelajaran ini secara sengaja dirancang agar mengaktifkan anak.

2. Inovativ

Pembelajaran PAIKEM bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang.

3. Kreatif

pembelajaran PAKEM juga dirancang untuk mampu mengembangkan kreativitas. Pembela haruslah memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, inisiatif, dan kreativitas serta kemandirian siswa sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya. Kemandirian dan kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua bentuk pembelajaran. Dengan dua bekal itu setiap orang akan mampu belajar sepanjang hidupnya. Ciri seorang pebelajar yang mandiri adalah: (a) mampu secara cermat mendiagnosis situasi pembelajaran tertentu yang sedang dihadapinya; (b) mampu memilih strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajarnya; (c) memonitor keefektivan strategi tersebut; dan (d) termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalahnya terselesaikan.

4. Efektif

Menyiratkan bahwa pembelajaran harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencapai semua hasil belajar yang telah dirumuskan. Karena hasil belajar itu beragam, karkteristik efektif dari pembelajaran ini mengacu kepada penggunaan berbagai strategi yang relevan dengan hasil belajarnya.

5. Menyenangkan

Pembelajaran yang dilaksanakan haruslah dilakukan dengan tetap memperhatikan suasana belajar yang menyenangkan. Mengapa pembelajaran harus menyenangkan? Dryden dan Voss (2000) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak diikuti suasana tegang sangat baik untuk membangkitkan motivasi untuk belajar. Anak-anak pada dasarnya belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan. Menurut penelitian, anak-anak menjadi berminat untuk belajar jika topik yang dibahas sedapat mungkin dihubungkan dengan pengalaman mereka dan disesuaikan dengan alam berpikir mereka. Yang dimaksudkan adalah bahwa pokok bahasannya dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari dan disesuaikan dengan dunia mereka dan bukan dunia guru sebagai orang dewasa. Apa lagi jika disesuaikan dengan kebiasaan mereka dalam belajar. Ciri yang terakhir ini merupakan ciri pembelajaran kontekstual. Dengan demikian pembelajaran PAKEM sebenarnya juga pembelajaran kontekstual.

PAIKEM merupakan pembelajaran yang tidak hanya terpaku menggunakan satu pendekatan saja, tetapi dengan menggunakan berbagai pendekatan dan model. PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.

c. Langkah-langkah atau prosedur pembelajaran

Secara garis besar, langkah pembelajaran PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’

4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

BAB III

IMPLEMENTASI KURIKULUM SMP AL BIRUNI

A.Profil singkat sekolah yang dikunjungi

Sekolah SMP Al Biruni Cerdas Mulia beralamat di Jl. Terusan Panyileukan No. 11 Panyileukan Bandung. Sekolah ini berdiri tahun 2008 dan diresmikan pada bulan Januari. Sekolah ini dikepalai oleh ibu Maria Susan, S.E. Disekolah ini terdapat sekitar 20 pengajar sehingga masih masih terbilang baru. Yang melatar belakangi berdirinya SMP AL Biruni Cerdas Mulia ini adalah atas permintaan dari orang tua murid yang telah menyekolahkan anaknya di TK dan SD Al Biruni Cerdas Mulia. Selain itu, SMP Al Biruni Cerdas Mulia ini didirikan untuk melanjutkan program kesinambungan dari TK dan SD. Meskipun terbilang baru, SMP Al Biruni ini memiliki kualitas tinggi yang menawarkan berbagai program unggulan dibawah ini:

a. Program Dieniyah; bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai tauhid, kecintaan kepada Islam, membangun karakter yang berlandaskan akhlakul karimah, program menghapal Al Quran, bahasa Arab, dan fiqih Islam.

b. Program Sains dan Teknologi Computer Programing, dan kelompok ilmiah remaja (KIR); bertujaun untuk mengembangkan rasa ingin tahu, mengembangkan kemampuan berpikir logis, kreaktif,dan terbuka, kemampuan mengidentifikasi dan memecahakn masalah, kemampuan mengkomunikasikan hasil pengamatan dan percobaan, serta kemampuan memaknai berbagai fenomena sains dan dalam konteks ke-Maha Besar-an Allah SWT. Program sains ini didukung lab. Sains yang lengkap dan pembelajaran komputer.

c. Program Bilingual Bahasa Inggris; bertujuan untuk mengembangkan kemampuan bahasa inngris siswa sehingga meningkatkan daya saingannya di masa depan.

d. Program seni dan olahraga; bertujan untuk mengasah potensi seni dan mengembangkan fisik yang dimilliki siswa.

e. Market Day; bertujuan untuk mengembangkan jiwa kewirausaahan siswa sehingga berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, tahan banting, mampu membangun relasi interpersonal, dan kreatif.

f. Layanan Bimbingan dan konseling komperhensif; bertujuan untuk membantu anak guru dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab. Layanan ini juga bertujuan untuk membantu orang tua agar dapat bderperan lebih efektif dan dapat mdembantu anak mengatasi permasalahannya.

1. Visi dan Misi SMP Al Biruni Cerdas Mulia

SMP AL Biruni Cerdas Mulia merupakan bagian intergal dari pendidikan yang berkelanjutan di Lembaga pendidikan AL Biruni. Saat ini kegiatan pendidikan di AL Biruni meliputi jjenjang pendidkan PG, TK, SD, dan SMP. SMP AL Biruni Cerdas Mulia merupakan sekolah inkusisi yang memiliki visi untuk menjadi sekolan menegan terbaik yang berorientasi pada keunngulan dan penghargaan terhadap ragam potensi dan kecerdasan dalam rangka membentuk cendekiawan muslim yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia. Seiring dengan visi tersebut, SMP AL Biruni Cerdas Mulia mengemban misi untuk menciptakan dan mengembangkan lingkungan belajar yang Isalmi, stimilatif, dan kreatif, serat mendorong berkembangnya jiwa kepemimpoinan, sikap disiplin, etos belajar yang tinggi, kemandirian, mampu bekerjasama, dan membangun kepeduliaan terhadap alam dan lingkungan sosial. Dalam interaksinya dengan lingkungan belajar tersebut, siswa diharapakan mampu untuk mengembangkan karakter yang berlandasan akhlakul karimah, mandiri, bertanggung jawab menguasai berbagai konsep dasar ilmu pengetahuan dan tekhnologi, serta menguasai keterampilan yang bermanafaat bagi kehidupan masa depan.

B. Desain Perencanaan Pembelajaran

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup komponen silabus; Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, materi/pokok pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Landasan Pengembangan Silabus

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 17 ayat 1, setiap sekolah/madrasah mengembangkan kurikulum berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 20.

Disini adalah salah satu contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang ada di sekolah SMP Al-Biruni Cerdas Mulia, Panyilekan Cibiru, Bandung. Pada mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas VII (Tujuh) / semester 2 (Dua). Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang tenaga pengajar ketika sedang membuat RPP:

Standar Kompetensi : Memahami makna dalam teks lisan fungsional dan monolog pendek sangat sederhana yang berbentuk descriptive dan procedure untuk beriteraksi dengan lingkungan terdekat.

Kompetensi Dasar : Merespons makna yang terdapat dalam monolog sangat sederhana secara akurat, lancer, dan berterima untuk beriteraksi dengan lingkungan terdekat dalam teks berbentuk descriotive dan procedure.

Indikator : Mampu merespons makna gagasan yang terdapat dalam monolog pendek sederhana secara akurat, lancer, dan berterima dalam teks procedure.

Jenis Teks : Procedure

Tema : Cooking Verb

Aspek / Skill : Mendengarkan (Listening)

Alokasi Waktu : 2 X 40 menit

A. Tujuan Pembelajaran

Pada akhir pembelajaran siswa dapat:

1. Mengidentifikasi makna dan arti kata kerja aksi dalam masak-memasak.

2. Memberikan respon verbal yang benar terhadap makna tindak tutur yang tercermin dari teks fungsional pendek tentang procedure.

B. Materi Pembelajaran

1. Kosa kata mengenai Cooking Verb:

a. Grill

b. Fry

c. Boil

d. Bake

e. Stir

f. Simmer

g. Grind

h. Beat

i. Whisk

j. Drain

k. Crack

l. Toast, etc.

2. Pair Game: “Tic Tac Toe” of cooking verb picture.

3. Match Picture with the best words or sentence.

4. Ciri kebahasaan teks procedure: imperative & Temporal Sequence.

C. Metode / Teknik

1. TPR (Total Physical Response)

2. PPP (Presentation Practice and Production)

3. CTL (Contextual Teaching and Learning)

D. Langkah-langkah Kegiatan

1. Kegiatan Pendahuluan:

a. Salam dan tegur sapa.

b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

c. Game: Hangman

1) The teacher draws 8 dashes

2) Teacher asks students to guess the word by mentioning some letters

3) Teacher writes down the correct letters on the blank dashes and draw a hangman if they guess wrongly

4) If students succeed to guess the word before the hangman is drawn, they win.

2. Kegiatan Inti:

a. Guru menyajikan berbagai gambar Cooking Verb dan memperkenalkan kosa kata serta pengucapannya.

b. Siswa menyimak dan mengucapkan kata dengan ucapan yang benar.

c. Siswa mengidentifikasi berbagai kata kerja dan mengenali perbedaan cara penggunaan cooking verb berdasarkan konteks kebutuhan.

d. Siswa berpasangan bermain ‘Tic Tac Toe’ game untuk mengidentifikasi action verb of cooking.

e. Siswa dibagi dalam 4 kelompok untuk menjodohkan kata atau kalimat terkait dengan gambar yang berhubungan dengan Cooking Verb.

3. Kegiatan Akhir:

a. Guru menyimpulkan materi dengan menjelaskan cirri kebahasaan teks procedure.

b. Guru menanyakan kepada siswa kata, frasa, kalimat yang sulit pengucapannya.

c. Guru menugaskan siswa untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dicapai dalam menyusun teks pada pertemuan selanjutnya.

E. Sumber Belajar

1. Gambar

2. Buku teks yang relevan

F.Penilaian

1. Teknik : Tes Unjuk Kerja

2. Bentuk : Game “Tic Tac Toe”

Match Game in Group

3. Instrumen

a. Game ‘Tic Tac Toe’

b. Look at the pictures and match with the sentences! Cooking Verb.

G. Pedoman Penilaian:

1. Untuk nomor I : Setiap menang skor 1 akumulasi skor

2. Untuk nomor II : Tiap jawaban benar skor 1 akumulasi skor

H. Rubrik Penilaian:

NO

URAIAN

SKOR

I

Berhasil membuat garis vertical, horizontal, diagonal dan pemilihan kata serta mengucapkan benar.

Tidak berhasil membuat garis vertical, horizontal, diagonal

1

0

II

Pilihan gambar dengan kata, frasa, kalimat benar

Pilihan gambar dengan kata, frasa, kalimat salah

1

0

Setelah kita melihat uraian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang ada disekolah SMP Al-Biruni Cerdas Mulia pada mata pelajaran Bahasa Inggris, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam pembuatan RPP kita harus benar-benar membuat perencanaan yang matang agar kita dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Selain itu dalam hal ini materi yang akan diberikan kepada siswa harus disesuaikan dengan keadaan fasilitas dan alokasi waktu yang ada, agar ketika proses pembelajaran sedang berjalan tidak ada hambatan yang berarti yang dapat menghambat proses belajar mengajar. Dengan demikian, maka dalam RPP perlu dimasukan rencana lain selain rencana inti, yaitu guna untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ada salah satu komponen RPP yang tidak dapat diberikan sesuai perencanaan yang ada. Maka rencana B dapat kita gunakan agar proses belajar mengajar bisa tetap berjalan sesuai dengan yang diharapkan

C. Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan pendahuluan:

a. Salam dan tegur sapa

b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

c. Game: Hangman

d. Tanya jawab tentang kegiatan masak-memasak

Kegiatan Inti:

a. Guru menyampaikan berbagai gambar Cooking Verb dan memperkenalkan kosa kata serta pengucapannya

b. Siswa menyimak dan mengucapkan dengan ucapan yang benar

c. Siswa mengidentifikasi berbagai kata kerja dan mengenali perbedaan cara penggunaan Cooking Verb berdasarkan konteks kebutuhan

d. Siswa berpasangan bermain ‘Tic Tac Toe’ game untuk mengidentifikasi action verb of cooking

e. Siswa dibagi dalam 4 kelompok dalam menjodohkan kata atau kalimat terkait dengan gambar yang berhubungan dengan Cooking Verb

Kegiatan Akhir:

a. Guru menyimpulkan materi dengan menjelaskan ciri kebahasaan teks procedure

b. Guru menanyakan kepada siswa kata, frasa, kalimat yang sulit pengucapannya

c. Guru menugaskan siswa untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dipakai dalam menyusun teks pada pertemuan selanjutnya.

Pelaksanaan Pembelajaran

Pada pukul 7.15 WIB ibu Ratna Windarsih, guru bahasa Inggris SMP Al-Biruni Cerdas Mulia, memasuki ruang kelas VII, kemudian murid-murid mengucapkan salam pada ibu Ratna. Sebagai kegiatan pendahuluan, Ibu Ratna Windarsih menyampaikan materi yang akan dipelajari yaitu menjelaskan teks (Procedure) dengan tema Cooking Verb. Sebelum memasuki pembelajaran, ibu Ratna bertanya kepada murid apakah mereka sering atau pernah memasak? Murid pun dengan semangat menjawab, ya mereka pernah memasak. Setelah itu ibu Ratna menyajikan berbagai gambar cooking verb dengan menggunakan in focus dan memperkenalkan kosakata serta pengucapannya. Siswa menyimak dengan penuh antusias dan mengulangi kosakata apa yang ibu Ratna ucapkan dengan benar. Setelah itu, siswa mengidentifikasi berbagai kata kerja dan mengenali perbedaan cara penggunaan Cooking Verb berdasarkan konteks kebutuhan. Setelah beberapa saat , ibu Ratna menyuruh siswa berpasangan untuk bermain ‘Tic Tac Toe’ game guna mengidentifikasi action verb of cooking. Disini siswa terlihat antusias memainkan game tersebut. Setelah game selesai, ibu Ratna membagi siswa kedalam 4 kelompok dalam menjodohkan kata atau kalimat terkait dengan gambar yang berhubungan dengan Cooking Verb. Disini, siswa benar-benar membangun kerjasama kelompok yang sangat baik. Para siswa terlihat fokus dalam menjodohkan kata atau kalimat dengan gambar yang berhubungan dengan Cooking Verb. Materi pun selesai, ibu Ratna menyimpulkan materi dengan menjelaskan ciri kebahasaan teks procedure dan menanyakan kepada siswa mengenai kata, frasa, atau kalimat yang sulit pengucapannya serta menugaskan siswa untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dipakai dalam menyusun teks pada pertemuan selanjutnya.

INSTRUMEN SURVEY DAN OBSERVASI

[B] Pelaksanaan Pembelajaran



1. NAMA GURU : Ratna Windarsih, S.S.

2. SEKOLAH : SMP AL BIRUNI CERDAS MULIA

4. KELAS : VII (Tujuh) / 2 (dua)

5. MATA PELAJARAN : Bahasa Inggris

6. WAKTU : 2x40 menit

7. TANGGAL : Kamis, 12 Mei 2011


Aspek yang diamati

100%

75%

50%

25%

1. Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran.

1.1 Menyiapkan alat, media, dan sumber belajar.

1.2 Melaksanakan tugas harian kelas

ü

2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran

2.1 Memulai kegiatan pembelajaran

2.2 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan tujuan, siswa, situasi, dan lingkungan

2.3 Menggunakan alat bantu (media) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, siswa, situasi, dan lingkungan

2.4 Melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam urutan yang logis

2.5 Melaksanakan kegiatan pembelajaran Secara individual, kelompok, atau klasikal

2.6 Mengelola waktu pembelajaran secara efisien

ü

3. Mengelola interaksi kelas

3.1 Memberi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi pembelajaran

3.2 Menangani pertanyaan dan respon siswa

3.3 Menggunakan ekspresi lisan, tulisan, isyarat dan gerakan badan

3.4 Memicu dan memelihara keterlibatan siswa

3.5 Memantapkan penguasaan materi pembelajaran

ü

4. Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar.

4.1 Menunjukkan sikap ramah, hangat, luwes, terbuka, penuh

pengertian, dan sabar kepada siswa

4.2 Menunjukkan kegairahan mengajar

4.3 Mengembangkan hubungan antarpribadi yang sehat dan serasi

4.4 Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya

4.5 Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri

ü

5. Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam pembelajaran mata pelajaran tertentu

5.1 Mencapai tujuan komunikatif yang diinginkan

5.2 Memiliki unsur makna dalam urutan logis

Menggunakan unsur-unsur kabahasaan yang tepat

5.3 Menerapkan pembentuk wacana, sosiokultutal dan strategi komunikatif secara tepat

ü

6. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar

6.1 Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran

6.2 Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran

ü

7. Kesan umum kinerja guru/ calon guru

7.1 Keefektifan proses pembelajaran

7.2 Penggunaan bahasa Indonesia tepat

7.3 Peka terhadap kesalahan berbahasa siswa

7.4 Penampilan guru dalam pembelajaran

ü

ü

Observer/Surveyer,

Group 3

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.

Kurikulum merupakan Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran, cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran, untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum juga merupakan elemen strategis dalam sebuah layanan program pendidikan. Ia adalah ’cetak biru’ (blue print) atau acuan bagi segenap pihak yang terkait dengan penyelenggaraan program pendidikan. Dalam suatu pembelajaran, cara atau metode yang digunakan pun harus sesuai dengan materi yang akan disampaikan, serta kurikulum yang digunakan harus sesuai dengan perkembangan jaman. Agar tercapainya suatu pembelajaran yang efektif, kita sebagai guru harus bisa menjadi fasilitator bagi peserta didiknya.

SMP Al Biruni Cerdas Mulia didirikan pada tahun 2008, sehingga sekolah terpadu ini telah mengalami perkembangan kurikulum dari mulai kurikulum KBK sampai sekarang mengimplementasikan kurikulum KTSP. pernyataan dari bagian kurikulum SMP Al Biruni Cerdas Mulia.

B. Rekomendasi

Untuk meningkatkan kualitas siswa, peran guru sangatlah penting. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi dituntut harus membimbing dan mengontrol perkembangan siswa-siswanya. Terutama dalam mata pelajaran bahasa inggris, perlu ditekankan untuk aktif dan komunikatif antara siswa dan guru ketika pembelajaran berlangsung.

Dengan makalah ini, saya merekomendasikan kepada pihak pemerintah maupun instansi pendidikan terkait, agar mengaplikasikan apa yang telah diungkapkan oleh makalah diatas seperti Coperative Learning, Contextual Learning Teaching dan PAIKEM dalam bentuk nyata daKn bukan hanya sebatas teori agar dunia pendidikan di Indonesia menjadi maju, sehingga Indonesia bisa menjadi role model bagi negara lain dalam pendidikan.

Kita sebagai calon pendidik di masa depan tidak hanya dapat mengusai bidang keahlian yang kita pelajari tetapi juga harus mengerti tentang seluk beluk tentang kurikulum dan aplikasi. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik di masa depan harus mengusai kedua bidang diatas agar kita menjadi tenaga pendidik yang profesional.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More